Status Semeru Naik Menjadi Awas, Jaga Jarak Aman hingga 19 Kilometer, Gempa dan Letusan Belasan Kali

  • Bagikan
PANTAU NONSTOP: Personel BPBD memantau aktivitas Gunung Semeru dari Dusun Kajar Kuning, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Lumajang, kemarin Minggu 4 Desember 2022. Gunung Semeru kembali memuntahkan awan panas guguran dengan jarak luncur lebih dari 12 km.--Foto: Muhammad Sidkin Ali/Jawa Pos-Radar Semeru--

“Untuk sementara Ampelgading aman. Akvititas warga juga normal. Tetapi, memang hujan abu tipis bareng dengan hujan gerimis,” ujar Stefanus saat dikonfirmasi terpisah kemarin sore.

Kecamatan Ampelgading memang berada di kaki Gunung Semeru. Sama seperti Pronojiwo, kawasan terdekat Ampelgading dengan Semeru adalah Desa Argoyuwono. Tetapi, muntahan erupsi terbesar tidak mengarah ke Argoyuwono. Letusan Semeru mengarah ke Kabupaten Lumajang. ’’Semoga kondisi ini segera pulih dan normal kembali seperti sedia kala,” ucapnya.

Erupsi Gunung Semeru yang terjadi pada Minggu (4/12) dini hari membuat sejumlah warga desa di Kecamatan Pronojiwo berlarian menyelamatkan diri. Sebab, sekitar pukul 05.00, awan panas guguran (APG) mulai menyelimuti sebagian langit di area permukiman rumah warga.

Kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah desa dekat pegunungan lainnya. Misalnya, di Kecamatan Candipuro yang masih cerah pascaerupsi. Bahkan, kemarin masih banyak warga yang beraktivitas normal. Namun, pada pukul 12.20, tiba-tiba awan berubah gelap dipenuhi abu vulkanis. Warga pun panik dan lari berhamburan.

Rohmah, warga Desa Sumbermujur, mengatakan bahwa semula warga tidak terlalu mengkhawatirkan APG. Awalnya diperkirakan hanya warga Desa Supiturang, Oro-Oro Ombo, dan Sumberurip yang mengungsi. Tetapi, tiba-tiba awan itu datang.

”Pagi kami dengar informasi itu. Ya biasa saja karena awannya sangat jauh dari rumah. Tetapi, siang hari, saat orang-orang berdiam di rumah, tiba-tiba awan putih kecokelatan semakin dekat. Tetangga-tetangga langsung lari ke tempat aman. Langit gelap dan ada hujan abu lumayan tebal,” katanya.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, ratusan warga bergerombol turun menuju Lumajang. Bahkan, mereka yang semula berniat mengungsi di kantor Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro, ikut turun mengamankan diri. Sebab, pada jam-jam itu kawasan tersebut gelap. Awan tebal menghalangi pandangan mata.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang Patria Dwi Hastiadi mengatakan, titik lokasi pengungsian sementara dipusatkan di beberapa kantor desa dan gedung lembaga pendidikan. Data sementara yang dihimpun, setidaknya ada lima titik lokasi pengungsian yang terisi banyak warga terdampak.

”Kami masih melakukan pendataan secara akurat. Kurang lebih totalnya mencapai 2 ribu jiwa. Ada yang mengungsi di kantor Desa Penanggal, Tambahrejo, dan Desa Kloposawit. Ada juga yang mengungsi di gedung SD dan gedung SMP di Pronojiwo. Datanya masih menyusul karena kami masih asesmen,” tuturnya.

Sebagian besar pengungsi adalah penyintas erupsi tahun lalu. Tadi malam puluhan penyintas tersebut diperbolehkan meninggalkan kantor Desa Penanggal dan kembali ke tempat relokasi.

Patria mengakui, beberapa jam setelah Gunung Semeru mengalami erupsi, kepulan asap yang cukup tinggi itu terlihat sampai tempat relokasi, Bumi Semeru Damai (BSD) Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro. Penyintas yang masih trauma langsung mengamankan diri ke sejumlah tempat yang dianggap aman.

Erupsi Semeru juga berdampak pada hujan abu di Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang, kemarin. Abu menyelimuti kawasan Desa Tirtomarto dan sekitarnya. ”Tetapi, tidak terlalu banyak. Material abunya tipis-tipis pagi tadi,” kata Dayu Kriswanda, 31, warga Desa Tirtomarto, kepada Jawa Pos Radar Malang kemarin sore.

Abu vulkanis tertiup angin dari arah gunung ke barat daya. Pagi hari kawasan dengan julukan Bakroto itu pun ditutupi mendung tanpa hujan. Sebab, abu vulkanis masih berada di udara. Perlahan, material abu turun di kawasan Tirtomarto dan sekitarnya.

Erupsi tersebut terjadi lagi setelah satu tahun, pada tanggal yang sama, 4 Desember 2022. ”Tahun lalu juga begini. Tetapi, yang dulu lebih parah. Kalau sekarang, hujan abunya tipis. Tetapi, karena bercampur dengan hujan air, agak sulit membersihkannya.

Dari pantauan di lokasi, aktivitas warga Ampelgading berjalan seperti biasa. Lalu-lalang kendaraan di sekitar kantor Kecamatan Ampelgading berlangsung normal. Warga pun tidak panik meski ada hujan abu. Camat Ampelgading Stefanus Lodewyk Horsayr mengamini. ”Untuk sementara Ampelgading aman. Aktivitas warga juga normal. Tetapi, memang hujan abu tipis bareng dengan hujan gerimis,” ujar Stefanus saat dikonfirmasi terpisah kemarin sore. (jpg)

  • Bagikan