Dedikasi Perawat Profesional – Radar Sulbar
Opini

Dedikasi Perawat Profesional

Kamelia Rupeng

(Internasional Nursing Day 12 Mei 2019)

MENGABDIKAN diri dan menjadi seorang perawat merupakan suatu pilihan hidup bahkan menjadi motivasi dan cita-cita bagi sebagian orang. Namun tidak jarang pula yang menjadikan profesi perawat sebagai alternatif terakhir dalam menentukan nasib serta pilihan hidupnya.

Terlepas dari semua latar belakang tersebut, perawat merupakan suatu profesi yang sangat agung dan mulia dimana seorang perawat akan mendedikasikan dirinya. Perawat menjaga dan merawat klien dengan pendekatan holistic baik bio psiko sosio dan spiritual tanpa memandang perbedaan suku, ras, agama dan bahasa dengan tujuan dan harapan bahwa setiap tindakan yang dilakukan akan membantu pasien mencapai derajat kesehatan yang lebih optimal.

Seiring bertambahnya pengetahuan masyarakat tentang kesehatan tuntutan pelayanan kesehatan bermutu dan berkualitas semakin meningkat. Ditandai semakin banyaknya masyarakat yang menyoroti kinerja tenaga kesehatan dan mengkritisi berbagai aspek pelayanan kesehatan termasuk pelayanan keperawatan.

Tentu saja ini menjadi tantangan bagi profesi keperawatan dalam mengembangkan profesionalisme selama memberikan pelayanan berkualitas agar citra perawat senantiasa laik di mata masyarakat. Menjadi seorang perawat serta membangun citra perawat ideal di mata masyarakat bukanlah perkara mudah.

Seorang perawat profesional seharusnya mempunyai pengetahuan, keterampilan dan kewenangan untuk memberikan asuhan keperawatan berdasarkan ilmu dan kiat dalam batas-batas kewenangan yang dimilikinya. Seorang perawat profesional haruslah mampu menjalankan peran dan fungsinya dengan baik dengan penuh anggung jawab.

Adapun kemampuan yang harus dimiliki perawat profesional diantaranya ialah; Mampu memberikan asuhan keperawatan dengan mempertimbangkan kebutuhan dasar manusia; Mampu membuat keputusan klinik dengan kemampuan berfikir yang dimilikinya; Mampu menjadi pelindung dan advokat klien dengan menjaga keamanan dan menumbuhkan ‘trust’ (meyakinkan pasien bahwa setiap tindakan sesuai prosedur) selain itu tetap menghargai hak klien sebagai manusia untuk mendapatkan pelayanan sebaik-baiknya;

Mampu menjadi manajer kasus dengan mengkoordinasikan aktivitas anggota tim kesehatan lainnya, misalnya ahli gizi dan ahli terapi fisik; Mampu menjadi rehabilitator dengan membantu klien beradaptasi kembali ke tingkat fungsi maksimal setelah sakit, kecelakaan, atau kejadian yang menimbulkan ketidakberdayaan lainnya;

Mampu memberi kenyamanan dalam hal psikis yang kadangkala terabaikan karena hanya fokus pada keluhan fisik; Mampu sebagai komunikator yang mencakup komunikasi dengan klien dan keluarga, antar sesama perawat dan profesi kesehatan lainnya; Mampu sebagai penyuluh sehingga dapat menjelaskan, mendemonstrasikan prosedur serta menilai apakah klien memahami hal-hal yang dijelaskan dan mengevaluasi kembali kemajuan pembelajaran dengan mempertimbangkan kemampuan dan kebutuhan klien serta melibatkan sumber-sumber lain, misalnya keluarga;

Mampu menjadi kolaborator dengan diskusi atau tukar pendapat untuk penentuan bentuk pelayanan selanjutnya melalui kerjasama tim kesehatan yang terdiri dari dokter, fisioterapi, ahli gizi dan lain-lain; Mampu menjadi educator dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan seperti gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan sehingga terjadi perubahan perilaku; Mampu menjadi konsultan dilakukan atas permintaan klien tehadap informasi tentang tujuan pelayanan keperawatan yang diberikan; serta Mampu menjadi pembaharu dengan mengadakan perencanaan, kerjasama, perubahan yang sistematis dan terarah.

Kemampuan tersebut akan berlangsung maksimal ketika perawat dalam memberikan pelayanan menyadari fungsi yang dilakukan sesuai perannya yang dapat berubah disesuaikan dengan kondisi yang terjadi. Perawat akan melaksanakan berbagai fungsi, diantaranya; fungsi Independen, merupakan fungsi mandiri dan tidak tergantung pada orang lain;

Fungsi Dependen, merupakan tindakan pelimpahan tugas yang diberikan dari teman sejawat biasanya dilakukan oleh perawat spesialis kepada perawat umum, atau dari perawat primer ke perawat pelaksana; Dan Interdependen, merupakan pemberian pelayanan pada penderita yang mempunyai penyakit kompleks yang dilakukan dalam kelompok tim yang bersifat saling ketergantungan di antara satu dengan yang lainnya.

Sudah selayaknyalah ketika mendedikasikan diri seorang perawat profesional memiliki kualitas dan untuk mewujudkan hal itu. Tentu saja diperlukan kompetensi memadai, integritas tinggi, tekad/ kemauan besar, rasa peduli dan keseriusan dari dalam diri perawat sendiri dalam membangun citra keperawatan menjadi lebih baik.

Perawat yang terampil, cerdas, baik, komunikatif, dan dapat menjalankan peran dan fungsinya dengan baik sesuai dengan kode etik. Salah satu pesan inspiratif Faye Glenn Abdellah yang memilih berkarir jadi Perawat daripada menjadi Medical Doctor (MD): “I never wanted to be an M.D. because I could do all I wanted to do in nursing, which is a caring profession”. (saya tidak pernah ingin menjadi MD karena saya bisa melakukan semua yang ingin saya lakukan di keperawatan, yang merupakan profesi yang peduli), encyclopedia.com.

Tidak ada yang mustahil, teruslah berusaha mendedikasikan diri dan mengembangkan kemampuan peran dan fungsi. Semoga kedepan kita dapat menjadi perawat profesional yang mampu membangun citra perawat ideal di mata masyarakat. Selamat hari Perawat Internasional (12 Mei 2019). (***)

Oleh: Kamelia Rupeng/ Mahasiswa Proram Study Magister Ilmu Keperawatan, Fakultas Keperawatan Unhas Makassar

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top