Pasca Gempa Sulteng, Masyarakat Kembali ke Rumah – Radar Sulbar
Ragam

Pasca Gempa Sulteng, Masyarakat Kembali ke Rumah

WARGA bergegas menghindaari pesisir, setelah gempa berkekuatan 6,8 skala Richter mengguncang Luwuk, Sulteng, kemarin. (AFP)

JAKARTA, RADAR SULBAR – Badan Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan, bahwa hingga Sabtu pagi, 13 April, masyarakat terdampak gempa berkekuatan 6,8 Skala Richter (SR) mulai kembali ke rumah masing-masing.

Gempa yang melanda perairan timur Sulawesi Tengah, Jumat malam kemarin, sontak membuat warga sekitar panik. “Masyarakat yang mengungsi sebagian sudah pulang ke rumahnya. Sempat didirikan pengungsian di Kabupaten Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah hingga malam tadi (Jumat malam),” kata Kapusdatin dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Sabtu 13 April.

Menurut Sutopo, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Banggai, Sulteng melaporkan ada 1.300 KK penyintas yang tersebar di 4 titik, yaitu halaman kantor bupati, masjid An-Nur komplek perkantoran, Gedung DPRD dan kantor polres, telah kembali ke rumah mereka. “Penyintas pulang ke rumahnya secara mandiri dan sebagian diantar oleh BPBD,” sambungnya.

Adapun kondisi masyarakat di Kota Palu, Luwu, Banggai, Kepulauan Banggai sudah kondusif. Meski demikian, masih ada beberapa warga di Kabupaten Banggai dan Kepulauan Banggai yang bertahan di pegunungan karena takut. “Meskipun BMKG sudah menyatakan pengakhiran peringatan dini tsunami sejak semalam. Namun tidak seketika warga mau kembali ke rumahnya. Mereka tetap memilih mengungsi di bukit-bukit atau di daerah tinggi,” terangnya.

Sutopo menegaskan, arti dari berakhirnya peringatan dini tsunami adalah Pemda setempat bisa mulai mengarahkan warganya untuk kembali ke rumahnya masing-masing. Kondisi telah dinyatakan aman dari tsunami.

Data BMKG, gempa berkekuatan 6,9 yang kemudian dimutakhirkan menjadi 6,8 terjadi sekitar pukul 18.40 WIB. Analisis pemodelan menunjukkan bahwa gempa berpotensi tsunami. Sistem Indonesia Tsunami Early Warning System (INA TEWs) pun mengeluarkan peringatan dini tsunami sekitar 5 menit setelah gempa.

Gempa Jumat malam dipicu aktivitas sesar aktif. Ada dugaan bahwa struktur sesar yang menjadi pembangkit gempa ini adalah Sesar Peleng yang jalurnya berarah barat daya-timur laut di Pulau Peleng dan menerus ke Teluk Tolo. Sesar Peleng merupakan sesar aktif yang memiliki laju sesar sebesar 1,0 milimeter per tahun dan magnitudo maksimum yang mencapai 6,9 SR.

Catatan sejarah, Kepulauan Banggai sudah beberapa kali diterjang tsunami. Diantaranya 13 Desember 1858. Terjangan tsunami menyebabkan banyak desa-desa di pesisir pantai Kepulauan Banggai mengalami rusak parah. Juli 1859 wilayah Kepulauan Banggai kembali dilanda tsunami. Terakhir, adalah tsunami akibat gempa dengan magnitudo 7,5 SR yang terjadi pada 4 Mei 2000. (der/fin/rul)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top