Sulbar Darurat Stunting – Radar Sulbar
Ragam

Sulbar Darurat Stunting

GUBERNUR Sulbar, Ali Baal Masdar didampingi Kepala BKKBN Sulbar, Andi Ritamariani memukul gong seminar pengasuhan tumbuh kembang anak di Mamuju, Senin 26 November 2018. (ian/RDR)

RADARSULBAR.CO.ID — Data terkait stunting di Indonesia mencapai 8.916.656 jiwa. Paling tinggi diantara negara-negara Asean. Provinsi Sulawesi Barat menjadi penyumbang kasus terbanyak ke-2 di Indonesia setelah Nusa Tenggara Timur.

Menyikapi data Data UNICEF 2016 itu, pemerintah telah membentuk tim intervensi percepatan penurunan angka stunting terintegrasi dengan melibatkan beberapa kementrian dan Lembaga. Salah satunya adalah BKKBN.

Gubernur Sulbar, Ali Baal Masdar menyebut bahwa tingginya kasus stunting atau gizi buruk kronis di daerah ini merupakan hal yang memalukan. Mengusik pikiran. Saatnya bergotong-royong mengatasi permasalahan ini.

“Kita harus berkumpul dan bekerja sama merumuskan permasalahan ini. Apa program yang harus kita lakukan? Kita harus segera mendorong dan mengambil peran dalam mengentaskan kasus stunting, agar Sulbar tidak kehilangan generasi berkualitas di masa depan. Stunting ini juga sudah termasuk kategori darurat. Bukan hanya narkoba dan teroris,” ujar Gubernur pada Seminar pengasuhan tumbuh kembang anak di Mamuju, Senin 26 November.

Upaya peningkatan kualitas manusia, lanjut Ali, sejalan dengan misi progam pembangunan di Sulbar, yakni, membangun SDM berkualitas. Olehnya, perlu peningkatan penyiapan kualitas SDM dimulai dari tahap anak.

“Untuk mencapai tumbuh kembang optimal, setiap anak membutuhkan gizi yang cukup dan seimbang, perawatan dan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan berkesinambungan serta perlindungan terhadap bahaya-bahaya fisik dan penyakit,” lanjutnya.

Gubernur menambahkan, penanganan stunting hanya dapat terlaksana melalui intervensi multi dimensi.

“Melalui kegiatan seminar ini saya menekankan kepada kita semua, khususnya peserta seminar untuk mempersiapkan generasi emas Indonesia, khususnya generasi emas Sulbar yang maju dan Malaqbi, membangun sumber daya manusia yang berkualitas, berkepribadian dan berbudaya. Melalui Keluarga, orangtua harus lebih fokus memberikan prioritas untuk pembangunan SDM ke depan, karena SDM menjadi penentu kemajuan suatu bangsa,” tandasnya.

Prev1 of 2

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


To Top