Ketika Siriq Terkebiri – Radar Sulbar
Opini

Ketika Siriq Terkebiri

Salah satu yang menjadi pembeda setiap manusia adalah identitas nilai yang melekat dalam dirinya. Baik sebagai identitas diri, bangsa, negara dan agama sekalipun.

Oleh; Hamzah Durisa
(Kelahiran Rappogading, Lampoko, Campalagian Polman)

Demikian halnya siriq yang menjadi bagian identitas nilai dalam masyarakat Sulawesi Barat (Mandar), bersamaan dengan nilai lainnya seperti Malaqbi dan Lokkoq.

Dalam sebuah negara misalnya, ada banyak identitas yang melekat. Ketika mendengar atau melihat Garuda atau bendera Merah Putih, maka akan ikut nama Indonesia sebagai identitas yang diwakili.

Begitu juga dengan mendengar Pancasila, maka yang dipahami adalah identitas nilai dasar ataupun ideologi bangsa Indonesia. Sama halnya ketika mendengar kata siriq, malaqbi dan lokkoq. Hal yang terlintas adalah bangsa/suku Mandar karena ialah yang memiliki identitas tersebut.

Seiring perjalanan waktu, ada saja ‘penghianatan’ terhadap nilai-nilai itu. Terkadang dasar/ideologi yang sudah diletakkan oleh para pendahulu kita, senantiasa tertanggal atau bahkan dilupakan generasi setelahnya.

Dalam Islam misalnya, nilai dasar Islam telah diletakkan bahkan diperjuangkan Rasulullah, namun tetap saja terkesan sebatas konsep nilai yang terkadang melangit, tidak membumi. Begitu halnya Pancasila, didalamnya terdapat lima nilai dasar yang telah dirumuskan para pencetusnya. Namun kini sangat sulit ditemukan dan dirasakan pengejahwantahannya.

Kemudian kita ketika diperhadapkan pada konsep siriq masyarakat Mandar. Nilai siriq seperti yang telah penulis katakan bahwa ia adalah sebuah identitas nilai. Inilah yang menjadi pegangan dasar para pendahulu bangsa Mandar.

Bahkan jauh sebelum datangnya agama di Indonesia, jauh sebelum Indonesia ada dan merdeka. Siriq senantiasa dipegang teguh bahkan dibawa mati ketika ada seseorang yang menjatuhkan harkat martabatnya. Akan tetapi, dewasa ini, nampaknya hal demikian makin tertikikis bahkan sama sekali tidak ada.

Prev1 of 3

To Top