Rahasia di Balik Sandeq Race – Radar Sulbar
Opini

Rahasia di Balik Sandeq Race

Beberapa hari terakhir, berbagai media konvensional maupun media sosial serta laman internet yang menyajikan informasi tentang Sulbar, dipenuhi berita dan diskusi kisruh pelaksanaan Sandeq Race (SR) tahun ini.

Oleh: HORST LIEBNER

Mulai dari ada atau tidak adanya dana, pengunduran diri tim pelaksana lapangan sampai plusminus berbagai pihak yang selama ini terlibat dalam penyelengaraan ajang bahari terbesar Sulbar ini. Akhirnya, Gubernur Sulbar Ali Baal Masdar beri lampu hijau: SR akan dilaksanakan sesuai jadwal, dan dana yang selama itu menjadi hambatan pun muncul. Nah, khalayak pasti tanya diri: kenapa sampai begitu?

Dan karena nasib SR 2017 kini sudah jelas, maka saya sebagai salah seorang yang pernah berada di tengah kisruh ini bersedia membuka rahasianya. Ketika pada pekan silam masalah pendanaan memuncak, kami akhirnya menemui seorang ahli ilmu gaib, dan memang, beliau langsung mendapatkan akar soalnya: Dana itu takut sama tim kami sehingga tak mau turun.

Makanya, kami membuat surat pengunduran diri, dan menyerahkannya pada Pak Gubernur. Hasilnya jelas: Hanya beberapa jam setelah pengunduran diri kami diumumkan di koran ini, dananya sudah ada, dan ajang lomba bisa diadakan!

Hal ini membuat kami berpikir: dimana lagi kami menjadi hambatan selama ini? Ada satu jawaban atas pertanyaan ini yang dengan gampang kami dapat. Sementara pihak yang melaksanakan SR sejak beberapa tahun silam ini bisa menyukseskan lomba dengan sangat cepat dan tanpa komplikasi. Kami tidak mampu mengadakannya tanpa persiapan panjang dan perencanaan ketat.

Kami selalu memerlukan berbulan-bulan untuk mendaftarkan peserta dan merencanakan trayek dan lokasi start dan finish serta berbagai kegiatan lain. Berminggu-minggu untuk membuat baju peserta dan panitia atau mencetak layar perahu dengan logo sponsor. Pihak lain tadi, terbukti bisa membuatnya dalam hitungan hari. Ya memang kami harus mengakui, disitu saja kami kalah jauh. Akan tetapi, bukan itu saja. Kami selama ini juga keliru dalam cara mengadakan lomba.

Sejak ajang SR pertama pada tahun 1995, kami selalu beranggapan selain kegiatan di laut perlu kegiatan di darat, seperti musik dan permainan tradisional untuk menghibur peserta dan penonton. Jelas salah kami: Cukup minta diadakan elekton dari camat setempat, sudah jadi hiburannya.

Prev1 of 3

To Top