Puasa Ramadan Bukan Pemandul Kreativitas dan Produktivitas – Radar Sulbar
Opini

Puasa Ramadan Bukan Pemandul Kreativitas dan Produktivitas

Ramadan dalam Islam diyakini sebagai bulan penuh rahmat, berkah dan ampunan. Sehingga umat Islam menjadikannya sebagai momentum membangun spritualitas diri melalui berbagai macam ibadah di dalamnya, baik secara kuantitas maupun secara kualitas.

OLEH: Dr. MUHAMMAD SAID ALKANANGI
(Dosen STAIN Majene, Sulbar)

Ramadan pula identik dengan kewajiban berpuasa bagi umat Islam untuk mencapai suatu tujuan yakni ketakwaan kepada Allah swt. Qs. Al-Baqarah: 183. “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa,…”

Hal yang menarik dikaji pada ayat tersebut adalah kata ‘tattaqûn’ sebagai esensi dari puasa ramadan dan hubungannya dengan etos kerja (kreativitas dan produktivitas). Kata tattaqûn adalah bentuk jadian dari kata dasar waqaa yang artinya melindungi, menjaga, dan memperbaiki; yang kemudian diikutkan kepada wazan ifta’ala, menjadi ittaqa-yattaqi.

Dalam Ilmu Shorof, jika mengikuti pola ini bermakna muthawa’ah, yakni menunjukkan akibat dari suatu perbuatan seperti dikatakan: waqaytu nafsi fattaqa, artinya: saya menjaga diri saya, maka diri saya pun terjaga. Sebagian ulama mendefinisikan ‘takwa’ adalah menaati perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, maka ini adalah pendefinisian sesuatu dengan konsekuensinya.

Artinya, ketika seseorang ingin melindungi dirinya dari kemurkaan Allah, maka ia menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Terkadang, kata ‘takwa’ juga diartikan sebagai takut.

Maka ini merupakan pendefinisian sesuatu dengan penyebabnya. Artinya, seseorang harus melindungi dirinya dari murka dan hukuman Allah karena dia merasa takut kepadanya, karena seseorang yang tidak merasa takut, maka ia tidak akan mempersiapkan perlindungan apapun.

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa ‘ketakwaan’ yang menjadi substansi dari puasa ramadan mengandung makna dinamis yakni ada sebuah proses yang bergerak secara sungguh-sungguh di dalamnya untuk mencapai suatu tujuan yang baik. Jadi taqwa tidak bermakna statis.

Prev1 of 3

To Top