Kisah Getir si Bayi Prematur dari Pulo Tangnga – Radar Sulbar
Polman

Kisah Getir si Bayi Prematur dari Pulo Tangnga

Haisa dalam gendongan sang ibu di Polman, Sulawesi Barat. (Ist)

Berbeda dengan anak seusianya pada umumnya, sepanjang hari Haisa hanya bisa menangis. Haisa pun sangat jarang membuka matanya, terlebih ketika ia sedang menangis, atau ketika ibunya memberinya ASI.

Laporan: MUHAMMAD NARWIS. M.A
(Lurah Amassangang Binuang, Polman)

Haisa lahir tiga bulan lebih awal dari seharusnya, ia lahir dengan metode cesar RSU Polewali Mandar (Polman), Sulbar di usia kandungan yang masih berumur enam bulan.

“Oh ia, hari ini 8 April normalnya ia lahir”, celoteh Nursia ibunya, merujuk analisa Bidan Desa Amassangan yang tertera pada buku kontrol periksa pemberian Puskesmas Binuang.

Tiga bulan lalu bertepatan dengan hari pernikahan putrinya, perempuan lincah dengan perawakan kecil ini dilarikan ke puskesmas dengan menggunakan perahu dari Dirham, Kepala Lingkungan Pulo Tangnga (Salama). Bersama Nur Alya si bidan desa, Dirham membawa Nursia ke Puskesmas.

Jaraknya cukup dekat, namun akses menuju puskesmas harus ditempuh dengan menggunakan dua moda transportasi. Hal ini mengakibatkan proses evakuasi berjalan lambat. Tak lama setelah tiba di Puskesmas Binuang, setelah melihat kondisi pasien dokter jaga memutuskan pasien harus dirujuk ke RSUD Polman.

Setibanya di rumah sakit, melalui sebuah proses yang alot, bayi Nursia lahir melalui proses cesar, karena sebelumnya air ketuban ibu Nursia telah pecah dan terjadi pendarahan yang diduga akibat saat pernikahan putrinya Nursia mengaku mengangkat beras yang bebannya cukup berat.

Prev1 of 3

Click to comment
To Top