Mangrove Mengering, BLHD Jangan Gamang – Radar Sulbar
Matra

Mangrove Mengering, BLHD Jangan Gamang

RUSAK. Pohon bakau di Tanjung Baku, Desa Ako, Kecamatan Pasangkayu mengering dan mati. (foto:hasnur/radarsulbar)

 

PASANGKAYU, RADAR SULBAR — Sejumlah pohon mangrove (bakau) di wilayah Pantai Tanjung Baku, Kabupaten Mamuju Utara (Matra), Provinsi Sulawesi Barat, mengering dan mati.

Satu persatu, dan perlahan tanaman pelindung tersebut mengering. Tepatnya di pesisir Desa Ako, Kecamatan Pasangkayu, sekitar pabrik pengolahan CPO (crude palm oil) milik PT. Tanjung Saran Lestari (TSL), anak perusahaan Astra Grup.

Kondisi ini menuai keprihatinan dan turut mengundang perhatian para anggota DPRD Matra. Anggota Komisi I DPRD Matra, Ikram Ibrahim menegaskan bahwa pihak Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Matra, mesti transparan dalam melakukan investigasi mengenai masalah ini.

Selain itu, mendorong pihak BLHG untuk berani bertindak tegas, tak ragu jika memang terbukti bahwa kerusakan lingkungan tersebut disebabkan oleh limbah pabrik yang dibangun di sekitar wilayah tersebut.

“Jangan sekali-kali pemkab mau diatur-atur perusahaan, dan perusahaan jangan coba-coba mau mengatur negara. Saya minta BLHD Matra jangan macam-macam terkait persoalan ini. Menurut saya ini persoalan serius karena terkait isu lingkungan,” ujar Ikram, Rabu.

Kata dia, jika kemudian pihak BLHD Matra terkesan menutup-nutupi atau sengaja mengulur-ulur waktu untuk mengungkap penyebab kematian pohon bakau tersebut, maka sebagai mitra eksekutif pihaknya akan mengambil tindak tegas sesuai dengan tupoksi (tugas pokok da fungsi) yang dimiliki.

“Tentu kami akan mengambil langkah tegas, kalau pihak BLHD terkesan tidak transparan menangani persoalan ini. Karena kami juga tidak ingin dinilai lemah oleh publik,” tambahnya.

Kabid Penataan dan Penataan BLHD Matra, Muhammad Tauhid, menyampaikan bahwa pihaknya akan senantiasa transparan dalam menangani persoalan ini. Ia pun berkomitmen sesegera mungkin bisa mengungkap apa penyebab kematian sejumlah pohon bakau ini.

“Pasti tidak akan kami tutup-tutupi, kami akan tetap bekerja secara profesional. Cuma yang perlu juga dipahami bahwa kendala di kami sekarang ini dalam melakukan investigasi dan pengujian laboratorium adalah keterbatasan anggaran, sehingga untuk mengetahui penyebab kematian pohon bakau ini tentu sedikit memakan waktu. Apalagi uji laboratorium ini dilakukan di luar, karena di sini alatnya belum tersedia,” terangnya.

Ditambahkan, bahwa saat ini pihaknya telah melakukan upaya pembinaan pada pengelolaan lingkungan di wilayah pantai tanjung Baku tersebut. Diantaranya meminta perusahan untuk melakukan pembersihan sampah-sampah yang ada di areal pohon bakau tersebut, serta mendorong pihak perusahaan untuk tetap melakukan penanaman pohon bakau.

“Jadi, lagi-lagi saya katakan bahwa saya tidak ingin memvonis penyebab kematian bakau ini. Jangan sampai terjadi fitnah. Ini yang selalu kami jaga. Karena kami juga sementara telusuri aktifitas lain diluar perusahaan yang ada disana. Memang butuh waktu melakukan investigasi terhadap persoalan ini,” ujarnya. (nur/rul)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top