Warga Masih Andalkan Pincara – Radar Sulbar
Features

Warga Masih Andalkan Pincara

Laporan: Aspar (Pedalaman Matra)


HARAPAN masyarakat akan sentuhan pembangunan mutlak dipenuhi pemerintah. Pemerataan adalah salah satu hal yang paling diinginkan, utamanya di desa.

Namun, belum semua desa dapat tersentuh maksimal. Contohnya di Dusun Kampung Baru, Dusun Pamanua, Dusun Tobengi, Dusun Masabo, Desa Benggaulu Kecamatan Dapurang, Mamuju Utara (Matra), Sulawesi Barat.

Di sana, warga harus bertaruh nyawa untuk menyeberan sungai. Karena belum ada jembatan, mereka terpaksa menyeberangi sungai dengan memanfaatkan sarana seadanya. Sebagai penunjang transportasi, warga menggunakan pincara atau sejenis rakit dengan ukuran yang lebih besar.

Konstruksinya sedikit berbeda. Kalau rakit umumnya terbuat dari bambu dan beban angkutnya juga tak seberapa. Sementara pincara terbuat dari papan dan balok. Untuk mengapung, di bawahnya dideret drum atau perahu agar bisa mengapung. Sehingga memiliki daya angkut lebih besar.

Di Benggaulu, pincara merupakan satu-satunya alat transportasi bagi warga untuk menyeberangi sungai. Baik untuk mengangkut hasil perkebunan maupun untuk keperluan dari di kota. Masih beruntung jika arus sungai normal-normal saja. Jika sungai meluap, tak ada yang bisa menyeberang.

Anak-anak sekolah dari Dusun Kampung Baru, Dusun Tobengi dan Dusun Masabo tak bisa pergi sekolah. Sebab SD dan SMP ada seberang sungai, tepatnya di Dusun Dusun Pamanua.

Kapala Desa Benggaulu, Isukantoro, menyampaikan bahwa empat dari 14 dusun yang ada di desanya tersebut memang masih jauh dari pembangunan infrastruktur. Selaku kades baru, ia berharap Pemkab Matra bisa segera mengalokasikan anggaran untuk pembangunan jembatan.

“Tiga dusun itu, kalau mau menyeberang harus naik pincara. Dan ada satu dusun, namanya Dusun Masabo, itu warganya harus melewati dua sungai yaitu Sungai Benggaulu dan Sungai Karossa,” terangnya, Senin 30 Januari.

Masyarakat Dusun Kampung Baru, Pamanua, Tobengi dan Masabo rata-rata petani. Komiditi pertanian yang banyak ditanam disana seperti padi, merica. Dan hasil kebun seperti kakao dan sawit. Petani di sana sangat membutuhkan akses yang memadai untuk distribusi hasil panen mereka.

“Makanya besar harapan saya Pemkab Matra dapat membangun jembatan yang bisa menghubungkan empat dusun itu. Saya mau bangun jembatan dengan anggaran desa, tapi mana cukup. Anggaran pembangunan jembatan itu besar,” ucapnya. (red)

Click to comment
To Top