Aksi Damai Bela Islam di Sulbar Dijamin Tertib – Radar Sulbar
Mamuju

Aksi Damai Bela Islam di Sulbar Dijamin Tertib

Perwakilan sejumlah organisasi memberikan keterangan terkait aksi damai bela Islam. Mereka diterima Direktur Radar Sulbar H. Mustafa Kufung di gedung Graha Pena, Jalan Jenderal Sudirman Mamuju, Rabu malam. (dhany/radarsulbar)

 

 

MAMUJU, RADAR SULBAR — Aksi besar-besaran Gerakan Nasional Pembela Fatwa-Majelis Ulama Indonesia pada 4 November, tidak hanya berpusat di Jakarta. Di Mamuju, Sulawesi Barat, gerakan serupa juga direncanakan. Bertajuk ‘Aksi Damai Bela Islam’, unjuk rasa tersebut akan melibatkan massa sejumlah organisasi.

Seperti, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pemuda Humaddiyah, Ikatakan Alumni Madrasah Aliyah, Wahdah Islamiyah, Hisbuth Tahrir Indonesia (HTI), Hidayatullah, dan Fastabiqul Khairat.

Malam tadi, sejumlah da’i yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pembela Fatwa-Majelis Ulama Indonesia, berkunjung ke Graha Pena Radar Sulbar di Jalan Jenderal Sudirman, Mamuju. Ketua Wahdah Islamiyah Sulbar Amiruddin mengatakan, unjuk rasa 4 November, adalah aksi damai. Tidak ada niat untuk melakukan tindakan anarkis. Menurutnya, aksi tersebut adalah sarana untuk menyuarakan pendapat, menyampaikan tuntutan, dan itu adalah cara yang konstitusional.

“Kita perlu memahami bahwa aksi pada 4 November nanti, tidaklah berdiri sendiri. Itu ada sebabnya. Penyebabnya adalah peryataan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok, red) yang menyinggung Islam. Untuk itu kami mendesak agar itu diporoses hukum. Penegak hukum tidak perlu merespon berlebihan. Sebab aksi ini mendukung kepolisian segera meproses Ahok,” kata Amiruddin, malam tadi.

Demikian halnya disampaikan, Wakil Ketua MUI Mamuju Hajrul Malik. Ia menyebutkan, gerakan ini sesungguhnya untuk mengawal Fatwa MUI. Seperti diketahui, pada Selasa 11 Oktober lalu, MUI secara resmi telah mengeluarkan “Pendapat dan Sikap Keagamaan Majelis Ulama Indonesia” yang secara tegas menyatakan bahwa: Pernyataan Basuki Tjahaja Purnama dikategorikan: (1) Menghina Alquran dan atau (2) menghina ulama yang memiliki konsekuensi hukum.

“Yang kita mau lakukan ini aksi mengawal Fatwa MUI. Kami hanya mengkanalisasi, supaya tuntutan ini satu suara. Dan ini tidak ada hubungannya dengan politik. Tapi percayalah, aksi ini akan berjalan damai. Kita hanya protes itu, kenapa agama yang disinggung-singgung. Untuk itu kami minta ada proses hukum,” ucap Hajrul.

Kordinator Aksi pada 4 November, Ahmad Rifai, mengatakan, gerakan pangawal Fatwa MUI ini masih dalam bingkai konstitusi. “Bahwa aksi yang akan kami lakukan nanti tidak akan anarkis. Aksinya damai. Kami hanya mengajak seluruh elemen masyarakat, mari saling merangkul untuk menyampaikan pendapat. Kami juga berharap pihak keamanan jangan represif,” ucap Pengurus PD Muhammadiyah Mamuju ini.

Pihak pengamanan maupun pemerintah tidak perlu risau pada 4 November. Sebab tidak ada isu penggulingan negara, tidak isu SARA, tapi ini adalah aksi untuk mendukung penegak hukum agar memproses pihak-pihak yang telah dilaporkan atas penistaan agama.

Ketua PW Hidayatullah Sulbar Imran Jufri juga menyampaikan, konsep aksi pada 4 November itu adalah aksi damai. Ini hanya salah satu sarana penyampaian tuntutan. Kenapa harus demo, karena sebelumnya di Jakarta, desakan untuk memproses kasus peninstaan agama berjalan lamban. (ham)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top