Memahami Fenomena Gempabumi dan Tsunami serta Potensinya di Sulbar – Radar Sulbar
Opini

Memahami Fenomena Gempabumi dan Tsunami serta Potensinya di Sulbar

Oleh: Petrus Demon Sili
(Koordinator BMKG Sulteng/ Alumnus Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang)

 

Membaca sebuah tulisan di datastudi.wordpress.com/2010/11/25, menginspirasi saya untuk mencoba mengurai arti pentingnya memahami fenomena gempa bumi dan tsunami, dan potensi kejadian ditinjau dari sejarah kejadian di Sulawesi Barat.

Tulisan itu menjelaskan tentang tsunami yang melanda wilayah Majene dan sekitarnya, tanggal 21-24 Nopember 2010 enam tahun silam. Beberapa desa mengungsi ketakutan dan dampaknya adalah para nelayan tidak dapat melaut. Hal ini disebabkan karena kurangnya pemamahan masyarakat terhadap fenomena gempa bumi dan tsunami.

Ada sebuah kalimat menarik yang sengaja diberi tanda kutip oleh sang penulis adalah “Tsunami terjadi karena gempa, dan gempa itu tidak dapat diramalkan kapan akan terjadi”.  Menarik untuk diurai bahwa kejadian gempa bumi yang dampaknya kita rasakan di permukaan bumi adalah akibat dari tumbukan lempeng-lempeng di lapisan lithosphere kulit bumi oleh tenaga tektonik. Tenaga tektonik atau tektonisme adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi yang menimbulkan terjadinya pergeseran dan perubahan letak lapisan batuan, baik secara horizontal/gerak orogenetik maupun secara vertical/gerak epirogenetik.

Batuan batuan yang bersifat lentur mengalami retakan dibawah kondisi tekanan yang tinggi, sehingga batuan tersebut tertekan dan terlipat sampai pada titik tertentu kemudian akan mengalami pensesaran, membentuk suatu patahan. Gerakan tekanan dan tumbukan ini menyebabkan lapisan kulit bumi yang rapuh menjadi retak atau patah dan menghasilkan getaran. Getaran ini merambat sampai ke permukaan bumi yang kita kenal dengan sebutan peristiwa gempa bumi tektonik.

Begitu pula dengan sebuah peristiwa tsunami. Tsunami itu sendiri adalah gelombang laut dahsyat yang terjadi karena gempa bumi atau letusan gunung api di dasar laut. Dengan demikian berarti gempa bumi merupakan salah satu pemicu terjadi tsunami. Namun tidak semua gempa bumi dapat berpotensi tsunami karena harus memenuhi unsur: Pusat gempa bumi di Laut, Kekuatan sumber gempa bumi diatas 7 SR, Kedalaman sumbernya dangkal dibawah 60 Km, dan tipe patahannya adalah naik (thrusting fault) atau turun (normal fault).

Artinya bahwa jika terjadi gempa bumi yang tidak sesuai dengan keempat unsur diatas maka sangatlah kecil kemungkinan terjadi tsunami, apalagi pusat gempa buminya di darat. Secara umum daerah permukiman pantai yang perlu diwaspadai adalah: pantai dengan morfologi landai, berlekuk seperti teluk, dan daerah muara sungai.

Semakin menjauh pusat gempa bumi dan kedalaman laut kian dangkal, maka terjadi proses shoaling (pembesaran) yaitu proses pembesaran tinggi gelombang akibat melemahnya kecepatan tsunami karena pendangkalan dasar laut. Fenomena ini memaksa gelombang naik ke atas membentuk semacam dinding raksasa dengan tinggi di laut dalam hanya 1 hingga 2 meter, namun saat mendekati pantai ketinggian dapat mencapai lebih dari puluhan meter.

Tingginya gelombang ini ditambah dengan kecepatan arus menjadikan air laut menerkam apa saja yang dilewatinya. Bagi pantai yang tidak memiliki sabuk pengaman pantai alami (green belt) seperti hutan mangrove dan sejenis lainnya, maka daya dobrak hantaman gelombang laut ini dengan leluasa menerobos jauh masuk ke daratan.

Jika kita lihat wilayah Sulawesi Barat hampir sebahagian daerahnya dikelilingi oleh laut (selat Makasar sampai ke teluk Mandar), maka wilayah ini perlu diidentifikasi tingkat kerentanannya guna mengantisipasi dampak di kemudian hari, sebagai akibat dari gempa bumi dan tsunami.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Geofisika Klas I Palu, dari hasil pengolahan data dan analisis terkait sebaran pusat gempa bumi, maka untuk 5 tahun terakhir benyak kejadian gempa bumi micro hingga tingkat sedang (kekuatan gempa lebih kecil dari 5 SR), berpusat di daerah Karosa hingga Pasangkayu dan dari Kota Mamuju hingga Teluk Mandar.

Hal ini sudah terbukti sebelumnya, bahwa tanggal 23 Pebruari 1969 terjadi gempa bumi tsunami Tinambung menyebabkan 64 orang meninggal, 97 orang luka-luka dan 1.287 tempat tinggal mengalami kerusakan berat dan ringan. Dermaga pelabuhan pecah sepanjang 50 m, ketinggian tsunami mencapai 4 meter di Pellatoang dan 1,5 meter di Parasanga dan Palili.

Memercepat pemberian informasi sesaat setelah terjadinya gempa bumi, maka sampai dengan saat ini Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengoperasikan peralatan DVB (Digital Video Broadcast) di BPBD Provinsi Sulbar untuk layanan disseminasi informasi 5 menit pertama setelah kejadian gempa bumi.

Sedangkan peralatan pendeteksi gempa bumi InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System) telah beroperasi 2 unit yaitu di daerah Pamboang Majene dan Binanga Kota Mamuju. BMKG terus merapatkan jaringan pemantau gempa bumi di wilayah Sulawesi Barat yaitu tahun 2016 di Karosa Mamuju Tengah dan pemantau gempa bumi kuat Accelerograph di Kota Mamuju.

Mengenang sejarah pahit dampak gempa bumi dan tsunami di wilayah ini maka kita perlu waspada, karena sampai dengan saat ini belum ada teknologi dan metode yang digunakan untuk memperkirakan dengan tepat “kapan (jam, hari, tanggal, bulan, dan tahun), berapa kekuatan, dan  dimana” gempa bumi itu akan melanda wilayah kita. (*)

Click to comment
To Top