Renungan untuk si “Kecil” – Radar Sulbar
Opini

Renungan untuk si “Kecil”

(Sistem Pendekatan Komunikasi Dalam Organisasi)

Oleh: Arman, S.Pd, M.Pd
(Guru SMAN 3 Majene)

“Bila saya mampu mengatasi kegagalan itu, artinya saya lebih besar daripada kegagalan itu sendiri” (Edwar de Bono)

Sebuah seminar dilaksanakan oleh sekelompok organ tubuh. Mata, telinga, hidung, bibir, limpa, jantung, ginjal, semuanya berkumpul untuk mendiskusikan keberadaan dan peran setiap bagian organ tubuh. Mata berkata, “tanpa saya, hidup tak akan pernah berarti. Dengan saya, kita dapat melihat merahnya merah, cantiknya wanita ataupun indahnya panorama”. Telingapun berujar, tanpa saya tidak kita dapat mendengar merdunya lagu, gemericik air lembah ataupun panggilan yang tidak akan pernah terjawab oleh bibir.

Sesudah itu, jantungpun angkat bicara dengan nada yang pasti, “tanpa saya, kehidupan itu sendiri tidak akan pernah ada”. Siapa sih yang akan menapikkan keberdaan saya, mana ada yang berani menggugat kemustahakan jantung? Semuanya terdiam, terhenyak dan tertunduk lesu, tiba-tiba dubur angkat suara, memecah keterdiaman, “jadi kalau begitu, saya ini tidak ada gunanya? Saya tidak ada apa-apanya?”. Semua lalu tertawa. Menertawai dubur yang mereka anggap terlalu rendah, hina dan tak tahu diri. Dubur karena kesal, lalu mogok bekerja. Total mampet.

Dua hari kemudian, mata jadi kunang-kunang, telinga jadi panas tak teratur, jantung jadi lesu. Hati yang menjadi pabrik kimia bagi tubuh kalang kabut karena sistemnya menjadi kacau. Hari ketiga, mereka dengan terpaksa mengadakan seminar lagi dengan memberi pengakuan dan pentasbian tentang peran dubur bagi bangunan yang bernama manusia. Semua merasa miris, takut bahwa dubur benar-benar akan mogok total. Dubur dengan tenang dan senang menerima pengakuan itu, lalu kemudian bekerja lagi. Semua lantas kembali lancar.

Dari pragmen diskusi organ tersebut di atas, hendaknya menjadi sarapan yang harus dimiliki oleh semua orang yang notabene terangkum dalam suatu sistem. Ini terkait erat dengan bagaimana motivasi instrinsik yang dimiliki oleh seseorang, serta bagaimana kita berkaca dan bagaimana kita belajar mendengarkan seseorang, bahkan sebelum orang lain tersebut mengeluarkan suara untuk kita dengar dan kita jawab. Ambillah organisasi atau institusi kepemerintahan sebagai sebuah contoh. Sebuah organisasi, mnenurut teori, harus memenuhi empat kriteria: sederhana, lengkap-terpadu, pragmatis, dan mempunyai komunikabilitas.

Sebuah organisasi disebut sederhana bila tidak terjadi tumpang tindih dalam sistemnya. Dan Sebuah organisasipun dikatakan lengkap dan terpadu bila semua pekerjaan yang telah direncanakan dapat diselesaikan. Nah, sebuah dilema di depan mata. Kriterianya benar, tetapi didalamnya ternyata ada “jebakan” tanda Tanya besar akan muncul, adalah bagaimana membuat orang-orang itu cocok dalam “kotak”-nya. Hal ini tergantung, akan kita bawah kemana sebuah organisasi tersebut?

Apakah kita menganut paham organization by function ataukah organization by product, ataukah juga keduanya. Ketika kiblat organisasi tersebut diarahkan pada organization by function, maka kemungkinan lebih besar untuk produksi massa dan mudah diatur dalam rangka efisiensi, sedangkan pada organization by product, maka organisasi tersebut akan memberikan sistim koordinasi yang maksimun dengan kata lain titik pusat perhatian akan diarahkan pada salah satu aspek atau produk.

Lalu, apakah kita semua sekarang sedang menghadapi dilema yang tragis dan tak terpecahkan? Haruskah kegagalan tersebut menjadi menu lahap untuk kita santap setiap saat? Memang tampak seperti ada ironi dalam kehidupan modern ini. Rasanya, dahaga kita akan temuan baru tak pernah terpuaskan, tetapi pada momen yang sama kita terjebak dan tenggelam dalam ketakberartian zaman. Kelihatannya hanyalah sebuah permainan kata-kata dan arti, tetapi mungkin ada baiknya kita renungkan, khususnya kepada anda yang sering dirundung kegagalan.

Kegagalan adalah hanyalah sebuah pernyataan. Kesuksesan tidak pernah mengajarkan sesuatu kegagalan. Sebaliknya kegagalan hampir selalu mengajarkan kepada orang sebuah pengalaman baru untuk menghadapi masa depannya. Kemampuan dan kemauan untuk mengatasi kegagalan adalah kekuatan yang mendasari orang-orang sukses dalam kehidupannya. Yakinlah, bahwa pada titik paling terbawah sebuah kegagalan adalah ketidakmauan untuk bangkit dari kegagalan tersebut.

Ketika kegagalan menjadi penghias kehidupan kita, maka jurus yang paling jitu dan wahid untuk kita gunakan adalah bagaimana tingkat komunikasi yang dilakukan. Sistem komunikabilitas yang baik dalam sebuah setting organisasi, akan melahirkan pula suatu keberhasilan. Suatu sinyal yang keluar dari mulut ke mulut adalah sebuah permaknaan yang harus kita tahu. Isi pesan, makna pesan dan akses pesan tersebut akan bergerak kearah kemana.

Sebuah anekdot tentang seorang wisatawan yang tersesat disebuah kampung. Kepada seorang petani ia bertanya, “Pak, mana jalan yang terdekat ke kota?” Pak tani hanya menggeleng kepala sambil berkata bahwa ia tak tahu. Wisatawan itu menjadi jengkel dan berkata, “kamu bodoh sekali yah” Petani itu dengan tenang menjawab, “mungkin saya memang bodoh. Tetapi, yang sekarang ini tersesat bukanlah saya ”.

Kisah di atas hanyalah kisah dari mulut ke mulut. Tetapi mungkin juga inilah yang sering terjadi di masyarakat. Kisah tersebut bisa jadi tak akan pernah hilang, alias akan menjadi sebuah pembiasaan yang sebenarnya salah dan semu. Apa yang dapat kita tarik adalah; bahwa apa yang kita tanyakan dan apa yang kita suruhkan, itulah yang akan kita terima. Ada ungkapan dalam bahasa inggris: “silly question deserves silly answer”. Kesimpulannya adalah bagaimana cara kita menyampaikan pesan supaya orang lain mendengar dan melakukan apa yang kita minta lakukan, dan sebaliknya, bagaimana caranya kita mendengar supaya orang lain mau berbicara.

Inilah suatu hal yang “kecil” tetapi mengandung makna mendalam. Ketika kita menempatkan si “kecil” itu hanya sebagai pelengkap saja, maka sistem tersebut tidak akan berjalan, tetapi ketika si “kecil” itu ditempatkan sebagai bagian yang utuh dari sistem tersebut maka kesempurnaan sistem akan tercapai. Sistem tersebut akan menciptakan hubungan yang kondusif antar sesama melalui komunikabilitas yang efektif dan efisien, maka semua harapan, keinginan, dan tujuan yang ingin kita raih akan terwujud.

Bahkan ketika kita bisa mendengar sesuatu yang bahkan belum diucapkan, maka itulah sebuah kebermaknaan hidup yang sempurna. Lahaula Wala Quata Illabillah, semuanya terletak pada yang Maha Agung dan Maha Tahu. Manusia sebagai insan kamil di dunia ini hanya bisa berusaha dan berdo’a, semuanya akan kembali kepada yang di atas. Wallahu Alam Bissawab, hanya Tuhan yang tahu segalanya. (*)

Click to comment
To Top