Cerita “Vovasanggayu” dan Ragam Versi Tentangnya – Radar Sulbar
Features

Cerita “Vovasanggayu” dan Ragam Versi Tentangnya

INILAH kedua pohon bakau “Vovasanggayu” yang tumbuh kokoh di Dusun Tanjung Babia Keluarahan Pasangkayu Kecamatan Pasangkayu, Mamuju Utara (Matra), Sulbar. (Hasnur/ RadarSulbar)

 

 

HASNUR LARIANG, Pasangkayu

DARI Pasangkayu, Ibukota Mamuju Utara (Matra), jika melewati jalan menuju pantai wisata Tanjung Bibia, persis di sebelah kiri jalan tepatnya sekira 50 meter dari bibir pantai ke wilayah laut orang akan menyaksikan dua pohon bakau (mangrove) yang masih kokoh.

Sekilas itu seperti mangrove biasa. Nyaris tidak ada perbedaan sama sekali dengan lainnya. Namun siapa sangka, menurut beberapa warga, dua pohon inilah yang menjadi asal muasal nama Pasangkayu.

Mengenai historinya, ada beberapa versi yang berkembang. Sayangnya tidak banyak warga setempat yang kengetahui pasti kaitan nama Pasangkayu dengan dua pohon mangrove tua itu.

Cerita asal muasal pohon itu juga telah dibukukan dengan judul “Cerita di Bumi Vovasanggayu Sulawesi Barat, Kumpulan Legenda dan Dongeng Mamuju Utara” karangan Abdul Wahid, diterbitkan oleh Annora Media Group.

Dalam buku itu, konon pada jaman lampu, seorang nenek bernama Tupu yang hidup di kampung Tanjung Babia memiliki seorang cucu yang bernama Ijo. Sang cucu ini sangat menggebu-gebu ingin melaut dengan orang-orang dari selatan yang singgah di kampung Tanjung Babia.

Sang nenekpun menanam dua buah pohon bakau di bibir pantai secara berdekatan, sebagai penanda bagi cucunya jika kembali melaut nanti. Setelah beberapa peristiwa yang membuat sang nenek meninggal, sang cucu dan orang kampung lainnya sepakat kemudian menamai kedua pohon itu dengan nama “Vovasanggayu” yang berarti pohon yang bisa tumbuh sendiri.

“Jadi pohon itu sebagai penanda agar cucu si nenek cepat mengenali kampungnya jika kembali dari melaut agar ia tidak tersesat. Pohon ini saat ditanam sang nenek sempat ditebang oleh tetangga si nenek Tupu, namun tumbuh lagi. Makanya dinamakan Vovasanggayu,” terang pengarang buku tersebut Abdul Wahid.

Dari kata Vovasanggayu itulah, si Ijo kemudian menamakan kampung Tanjung Babia dan sekitarnya menjadi Pasangkayu, yang kemudian menjadi nama yang dikenal masyarakat Matra hingga kini.

Namun, ada juga versi lain dari cerita pohon Vovasanggayu ini. Dimana ada yang menyebut bahwa kedua pohon itu dulunya adalah pohon yang menjadi tambatan bagi perahu-perahu nelayan di kampung Tanjung Babia. Sehingga kemudain penduduk setempat menamainya sebagai Vovasanggayu.

Vovasanggayu berasal dari bahas kaili, (suku yang sudah lama mendiami Matra, red) yang berarti sebuah pohon. Sebutan Vovasanggayu lama kelamaan akhirnya mengalami perubahan penyebutan oleh masyarakat setempat hingga menjadi Pasangkayu.

Terlepas dari berbagai versi sejarah tersebut, yang jelas secara umum semua masyarakat Pasangkayu bersepakat bahwa dua pohon bersejarah dan memiliki nilai magis itulah yang menjadi asal muasal nama dari Pasangkayu.

Dua pohon yang melegenda itu kini menjadi monumen tumbuh dan menjadi salah satu pelambang histori dari masyarakat Matra, yang masih hidup dan bisa disaksikan oleh semua orang.

Apakah pohon ini masih asli dari pohon induknya semula atau sudah mengalami regenerasi, wallahualam, tak banyak yang tahu.

Kedua pohon ini juga tampak masih dalam kondisi yang natural belum ada sentuhan tangan sama sekali dari pemerintah. Masyarakat Pasangkayu juga enggan berbuat usil terhadap kedua pohon tersebut, sebab dinilai sebagai warisan sejarah yang mesti dilestrikan.

Tapi yang pasti, pohon “Vovasanggayu” telah menjadi salah satu gambar yang tertuang dalam logo Kabupaten Matra. (***)


To Top