Pendidikan Karakter dan Kemerosotan Disiplin Anak – Radar Sulbar
Opini

Pendidikan Karakter dan Kemerosotan Disiplin Anak

“Saya merasa tidak nyaman melihat sesuatu tidak disiplin. Saya bosan menyaksikan pertemuan kantoran yang mulur, dan saya kasihan serta sedih dengan PNS yang makan gaji dari uang rakyat tetapi malas masuk kantor.”

Hartanto, S. Ksi (Praktisi Humas Pemerintah)

Sekilas saya menceritakan masa kecilku. Meskipun lahir pada rezim orde baru, tapi penerapan pendidikan ahlak dan disiplin dalam keluarga yang saya alami cukup berkesan.

Bapak menjadi subjek dalam penerapan pendidikan dan perlakuan disiplin yang ketat. Saya dididik dengan cukup keras. Mulai dari merapikan mainan tiap hari, meletakkan handuk setelah mandi, makan sendiri dan tidak menghamburkan nasi di atas meja, dan tepat waktu dalam belajar.

Semua ada aturannya. Jika dua kali saja saya tak melakukannya, cambuk melayang di betis dan mainan yang tak teratur rapi setelah saya mainkan melayang ke tempat sampah. Kenangan masa kecil ini memang keras dan cukup menyiksa, tapi saya merasakan manfaatnya setelah saya dewasa. Saya tidak nyaman melihat sesuatu yang tidak disiplin.

Jika dibandingkan karakter anak zaman sekarang, ternyata jauh berbeda dengan 25 tahun sebelumnya. Anak seusia SD saja saat ini cukup pede di hadapan orang tua atau bahkan gurunya. Kalau boleh dikatakan terkesan arogan.

Anak sekolah tak lagi takut hardikan guru, disebabkan guru sudah punya batasan dalam melaksanakan praktek mengajar dan mendidik anak di lingkungan sekolah. Seorang guru bisa divonis melanggar Hak Asasi Anak (HAM) jika melakukan tamparan atau sekedar mencubit anak saat mendidik.

Pendidikan berbasis karakter mengharuskan guru melakukan metode mengajar yang menyenangkan. Sekolah harus mempunyai program nyata dengan membuat indeks penilaian kebersihan. Penerapan pendidikan karakter yang terintegrasi dalam setiap kegiatan sekolah, diharapkan mampu membentuk karakter anak dan secara lebih luas dapat membentuk karakter bangsa, sehingga dapat mengurangi kasus seperti korupsi, narkoba, ataupun terorisme.

Apa yang diterapkan dalam dunia pendidikan berbasis karakter saat ini memang baik secara teoritis. Pendidikan karakter nampaknya banyak mengadopsi teori yang dikemukakan Dorothy yang menekankan “Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri. Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri. Jika dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.”

Penerapan pendidikan berkarakter saat ini menghasilkan banyak anak didik yang berhasil mengukir prestasi sampai ke tingkat internasional. Tapi jangan dulu, belum tentu itu faktor dari pendidikan karakter yang sementara diterapkan di sekolah-sekolah, siapa tahu itu karena memang anaknya jenius luar biasa. Banyak pula anak didik hasil dari pendidikan karakter menjadi anak yang sensitif tak berahlak, tawuran, narkoba, free seks dan lain-lain.

Kita tidak tahu pasti apakah pendidikan berkarakter betul-betul diberlakukan di semua sekolah dan di rumah tangga dengan baik, atau memang belum diberlakukan sepenuhnya karena keterbatasan SDM dan keterbatasan alat peraga.
Hal ini masih memerlukan penelitian mendalam. Tapi satu hal pasti bahwa kemerosotan moral anak bangsa saat ini patut dipertanyakan penyebabnya.

Terlepas dari penerapan sudah baik atau tidak, secara kasat mata kita belum bisa menyimpulkan pendidikan karakter saat ini adalah yang terbaik, karena belum menampakkan hasil memadai. Pendidikan karakter belum dapat mengatasi ambruknya disiplin anak bangsa. Dengan Undang-undang kekerasan anak yang tidak membolehkan melakukan hukuman keras terhadap anak, perilaku anak semakin liar dan tak terkendali. Perilaku tidak sopan dan pelangaran etika lainnya semakin tak terbendung. Ditambah lagi pengaruh media yang menjadi pedang bermata dua, semakin memperunyam perilaku anak di era informasi saat ini.

Disinilah celahnya, mestinya ajaran Dorothy dikawinkan dengan penerapan disiplin baik di lingkungan sekolah maupun di rumah, sehingga pilihan yang disapaikan Dorothy dapat melengkapi karakter baik yang di sampaikan kepada anak didik.

Jika anak terlahir dengan karakter cinta, toleran, tetapi tidak disiplin maka itu juga tidaklah sempurna. Oleh karena itu pendidikan karakter yang diperkenalkan oleh Dorothy dan telah menjadi basis pembelajaran di sekolah-sekolah mestinya ditambah satu poin lagi yakni, jika anak dibesarkan dengan disiplin, ia belajar tepat waktu dan hidup dalam keteraturan.

Karakter suatu bangsa merupakan aspek penting yang memengaruhi perkembangan sosial-ekonominya. Kualitas karakter yang tinggi dari masyarakatnya akan menumbuhkan keinginan yang kuat untuk meningkatkan kualitas bangsanya.
Pengembangan karakter yang terbaik adalah jika dimulai sejak usia dini.

Sekadar diketahui jumlah anak hanya kurang lebih seperempat dari jumlah penduduk suatu negara tetapi merekalah yang menentukan masa depan suatu bangsa.
Kini pendidikan dalam keluarga menjadi harapan terdepan membentuk karakter anak sejak dini. Penerapan disiplin yang ketat mestinya masih diperlukan, agar anak tak menyimpang pada jalan yang salah. Tentunya dengan tetap mengawinkannya dengan pendidikan karakter.

Lembek sedikit dalam soal disiplin, anak akan terjerumus dalam arus globalisasi yang semakin mengilas. Modernisasi membawa perubahan terhadap kemajuan sains dan teknologi untuk meningkatkan peradaban manusia, tapi westernisasi yang memboncenginya siap menggilas putra-putri kita yang menjadi harapan masa depan bangsa, bila kedisiplinan dikendorkan.

Penerapan konsep pendidikan sekarang yang melunakkan disiplin karena takut melanggar HAM jika dibandingkan pendidikan tempo dulu yang mengedepankan disiplin tinggi dengan pemberian sanksi terhadap pelanggarnya maka kita bisa membandingkan hasilnya.

Saya tak mengatakan ini dan itu yang lebih baik, tapi kita sedih menyaksikan prilaku anak bangsa ini yang tidak disiplin, sedih menyaksikan anak bangsa yang suka tawuran, negeri ini semakin diberantas korupsinya tetapi tambah korupsi, BNN semakin gencar melakukan razia narkotika, tapi nakoba malah merambat dari dinding-dinding penjara sampai ke desa-desa (kampung narkoba).

Dan tatkala fatalnya anak bangsa yang pintar merakit bom yang seharusnya diperuntukkan untuk pertahanan negara tapi ternyata dipakai untuk mengebom sesama sendiri.

Intinya, kembali ke penerapan pendidikan kepada anak yang dimulai dari keluarga. Pendidikan karakter yang ditawarkan oleh Dorothy sudah jelas, apa yang harus kita ajarkan kepada putra-putri kita. Dan yang lebih penting lagi, bahwa tidaklah cukup dengan kasih sayang, toleransi dan penghargaan yang ditanamkan, tetapi disiplin sebagai dasar legitimasi moral anak-anak kita mestinya tak ditinggalkan. (**)

Click to comment
To Top