Opini

Islam Membangun Masyarakat Madani Dengan Semangat Pluralitas

Sejak diciptakan, generasi pertama manusia di muka bumi sebenarnya juga telah merasakan perbedaan pendapat.

Oleh: Mukhtar Hadi (Pengurus NU Kabupaten Majene, Ketua STAI DDI Majene)

Dua putra Nabi Adam As (Qabil dan Habil) terlibat perdebatan tentang siapa yang berhak dinikahkan dengan saudara kembar mereka. Akibat tak adanya kesepakatan, peristiwa itu berakhir tragis (pembunuhan). Peristiwa yang sengaja dirilis Allah swt dalam Alquran tersebut tentu ada maksud yang seharusnya tidak terlewatkan begitu saja. Apalagi ayat ini diposting dengan password awal “watlu ‘alaihim” (perintah membacakan secara rinci peristiwa tersebut), sejatinya harus ada hikmah yang bisa dipetik.

Paling tidak berangkat dari pengalaman tersebut untuk memanajemen perbedaan agar lebih produktif dan tak berakhir dengan prahara yang tidak diharapkan. Walhasil untuk kepentingan lebih besar kesepakatan dalam pluralitas adalah keniscayaan.

Alquran dari sisi inspirasi (mafhum) nya adalah sebuah kitab lengkap yang merupakan nikmat terbesar sebagai pedoman terbaik memakmurkan alam raya. Saking lengkapnya, apabila dikaji sampai kapan pun tak akan selesai (wa in ta’udduuw ni’matallahi laa tukhshuuwha walaw ji’naa bi mitslihii madadaa) meski kering air laut untuk dijadikan tinta demi mencatat dan menafsirkannya.

Untuk membuktikan fleksibilitas, keluasan dan kelengkapan Alquran dan mendekatkan pemahaman terhadapnya tentu perlu penafsiran bahkan penakwilan secara saintifik, objektif, kontekstual, jujur dan terbuka dari berbagai aspek tanpa ada unsur pemikiran tendensius, sektarian, apalagi hawa nafsu ambisius.

Kalau tidak demikian, tentu ia adalah buku kecil yang sempit dan sulit difahami. Dalam konteks pemaknaan inilah pasti terjadi perbedaan, dan sepanjang masih berada dalam lingkup logika semantik dan dilakukan orang yang memiliki kompetensi (ahla al-dzikri) untuk itu adalah sebuah keharusan. Dan inilah pluralitas dalam Islam.

Bukankan keberadaan suku dan golongan dengan segala yang melekat padanya adalah fitrah manusia dan Allah SWT sendiri telah menciptakan dan melegalkannya? (Yaa ayyuha al-nasu innaa khalaqnaakum min dzakairin wa untsaa, wa ja’alnaakum syu’uuwban wa qabaaila). Pengingkaran terhadap ayat ini adalah kekufuran. Pluralitas yang merupakan fitrah manusia meliputi perbedaan adat istiadat, budaya hidup, bahasa dan kearifan lokal lainnya, dan tentu maksudnya bukan untuk mendatangkan konflik tanpa akhir apalagi kehancuran.

Tetapi tujuan Allah menciptakannya adalah untuk saling mengenali (lita’aarafuuw) dengan perluasan makna menerima keragaman, bersinerji dan melengkapi, untuk menciptakan keharmonisan sosial. Pluralitas adalah aset dan potensi sosial yang sangat berharga bila dimenej baik. Secara filosofis pluralitas berfikir adalah modal menemukan pendapat yang lebih baik. Dapat dibayangkan jika perbedaan tidak ada maka dinamika kehidupan akan terasa hambar, fungsi sosial dan kemanusiaan tidak akan berjalan.

Tujuan penciptaan alam semesta menjadi tidak memiliki substansi apa-apa. Manusia akan menjadi jajaran dan barisan tanpa alternatif seperti malaikat, kebenaran hanya satu, tidak ada khilafiah, nuansa musaabaqah (fastabiqu al-khairat) dalam beragama tidak tumbuh dengan wajar, tidak perlu ada seminar dan diskursus sosial-keagamaan, dunia ini menjadi mati.

Konsekwensi logis dan kontra dari pemahaman tersebut adalah lahirnya consensus jumhur salafus-shalih dan telah diwarisi ulama nusantara yang menjunjung semangat pluralisme dalam mencari solusi sosial keummatan (tidak masuk pada ranah akidah), menolak segala bentuk kekerasan, seperti radikalisme, sadisme dan pemaksaan baik dalam tindakan maupun pemikiran, dan menampilkan Islam ramah budaya. Salah satu bentuk radikalisme tindakan adalah menghakimi seseorang tanpa melalui proses hukum, membunuh tanpa hak, dan lain-lain.

Radikalisme pemikiran adalah selalu menghakimi pemikiran dan pendapat orang lain, tidak menerima perbedaan, memaksakan dan menganggap pendapatnya paling benar, yang lain sesat dan mengada-ada, bahkan mengkafirkan orang Islam yang berbeda pemahamannya, memplesetkan lafadz dan makna dalil, menafikan hadits yang telah disepakati keshahihannya oleh jumhur ahli hadits demi menguatkan pendapat sendiri.

Model pemahaman seperti ini mengkerdilkan Islam sebagai agama global (lil’alamiin ), sangat berbahaya bagi eksistensi Islam, bahkan menciderai kesuciannya.

Alquran sejatinya hadir membawa maslahat dan keharmonisan (ishlaah) dan menjadi solusi inspirasi (hudan) dalam perbedaan, gotong royong (ta’aawun), bukan malah menebar dan menyulut api permusuhan dan kebencian (udwaan) di tengah fitrah pluralitas yang telah diciptakan Allah swt.

Dari kejernihan berfikir tersebut Islam akan semakin berterima secara universal. Di belahan dunia yang lebih maju khususnya Eropa dan Amerika, disana umat muslim membumikan nilai religius yang lebih fleksibel dialogis dan siap berbeda, mampu menembus batas rasional dan telah mendapat pengakuan yang terbukti dengan semakin banyak ilmuan dan orientalis menjadi muallaf, dan perlahan semakin tampak pelibatan orang muslim dalam peran politik dan ekonomi. Kemarin baru saja seorang muslim terpilih jadi Walikota London.

Berkaitan sistem ekonomi syariah meskipun kawasan kapitalis-liberalis tersebut belum menerapkan secara penuh, namun mereka mengakuinya dan telah mengakuisisi beberapa hal sebagai sistem okonomi global yang solutif, humanis dan mulai diam-diam meratifikasinya.

Hal tersebut tidak akan terjadi kalau propaganda syariah disampaikan dengan kebencian dan permusuhan ideologi. Kalau kita ingin Islam tetap eksis seharusnya umat muslim sendiri harus mampu menterjemahkan dan membumikan Islam yang rahmatan lil’alamiin, dan memberi solusi problem kemanusiaan. Islam memang bukan rahmatan lilmuslimin wal mukminin saja.

Sekira abad ke-17 Ibnu Taimiyah, Ibnu Al-qayyim Al-Jauziyah dan Imam Muhammad bin Abdul Wahhab dan banyak tokoh lain yang konon sebagai modernis dan pembaharu dalam Islam salah satu poin penting perjuangan mereka adalah membuka kembali pintu ijtihad (berpendapat dan berfatwa) yang pernah ditutup. Sebelumnya pintu ijtihad pernah ditutup para ulama salafusshalih karena ketika itu setiap orang tanpa mempertimbangkan kapasitas dan kapabilitasnya dapat berijtihad.

Iklim ini dianggap berbahaya dan tanda kehancuran peradaban Islam mulai semakin menakutkan, pintu ijtihad ditutup. Ketiga tokoh pembaharu tersebut melakukan perlawanan dan menyatakan membuka kembali pintu tersebut. Ini adalah era baru yang akan membuka kembali citra dan cakrawala Islam yang maha luas seluas alam semesta, mengakomodir perbedaan, menyuburkan semangat ijtihad, menemukan kembali keunggulan, universalitas dan fleksibilitas Islam sebagai sebuah solusi terbaik.

Namun sayang semangat suci tersebut justru melahirkan perbedaan dan kelompok baru dengan prinsip baru yang berhadap-hadapan dalam perbedaan dan saling klaim. Seolah membuka pintu ijtihad untuk diri dan kelompoknya, menutup rapat pintu itu untuk kelompok lain, sensitif dan mudah tersulut terhadap kritikan.

Bukankah ini malah tidak menghargai suburnya ijtihad, memasung kebebasan berpendapat. Tentu bukan semangat itu yang ingin dibangun para pembaharu tersebut.

Era baru terkini itu menjadi fenomena Islam abad ini, membias kemana-mana, membuat agama yang universal ini seolah menjadi sektarian, menakutkan dan dimusuhi. Keadaan seperti ini justru membuka pintu bagi kekuatan anti Islam (tanpa mengeneralisasi pada non Islam) untuk memasuki wilayah Islam dengan alasan dan issu keamanan global.

Lalu umat ini diombang-ambing, diadu domba dan dilemahkan, semua kawasan Islam dikacaukan. Dan sayangnya kekacauan lahir dari dan oleh umat Islam sendiri. Mereka yang berkelahi, mereka yang membunuh dan terbunuh, potensi dan sendi-sendi ekonomi keemasan peradaban Islam masa lalu yang damai dan tentram menjadi porakporanda oleh perang dan perbedaan yang disulut dan dipersenjatai orang lain. Umat Islam yang kaya (kecuali yang tattabi’a millatahum, mengikuti keinginan orang anti Islam) di kawasan konflik tersebut sebentar lagi akan menjadi lemah dan miskin dan inilah hasil akhir dari sebuah kata ‘radikalisme’.

Padahal sejatinya Islam hadir untuk menebar kedamaian, mengislamkan orang kafir, memberantas radikalisme, mambawa persatuan dan kesejukan global, membangun iklim ekonomi dan investasi yang sehat, membuka lapangan kerja dan membangun kesejahtaraan umat tanpa kecuali, karena memang ajaran Islam seperti itu adanya.

Dan sangat mengherankan jika di era modern yang entah dari mana dasar berfikirnya, kemudian ada kelompok sempalan anti pluralitas menempuh jalur berfikir dan menginterprestasikan bahwa dalam menegakkan syariat dan nilai keislaman menghalalkan kekerasan dan radikalisme.

Akal sehat tidak dapat menerima, apalagi jika dikaitkan tradisi Islam dan budaya berpikir serta perilaku sosial masyarakat nusantara. Ayo bangkit membangun generasi emas yang berfikir referensial, tanpa kekerasan, pelecehan apalagi pemerkosaan kebebasan berpendapat dan berfikir! (**)

Click to comment
To Top